Konsumsi
Kegiatan menghabiskan daya guna (utility) barang dan jasa.
Pengeluaran konsumsi personal (personal consumption expenditure) adalah pengeluaran rumah tangga untuk membeli barang baik barang-barang tahan lama (durable goods) maupun barang-barang tidak tahan lama (nondurable/ perishable goods), dan jasa.
Determinan Konsumsi
Pendapatan yang siap dibelanjakan (current disposable income)
Menurut hipotesa ini, Konsumsi ditentukan oleh current disposable income.
Pendapatan permanen (permanent income), yaitu pendapatan setelah menghilangkan pengaruh sementara dari kenaikan atau penurunan pendapatan (windfall gains or losses)
Menurut hipotesa ini, adanya kenaikan pendapatan yang permanen (seperti promosi jabatan, kenaikan gaji, dsb), maka porsi konsumsi akan meningkat seiring dengan kenaikan pendapatan.
Namun, jika kenaikan pendapatannya hanya sementara (misal, THR, bonus penjualan, dsb), maka kenaikan pendapatan tersebut akan ditabung dan pola konsumsi tidak berubah.
Pendapatan semasa hidup (life cycle income hypothesis)
Orang menabung untuk keberlangsungan konsumsi sepanjang waktu. Tujuannya agar memiliki pendapatan yang cukup selama masa pensiun.
Kekayaan (wealth) dan faktor-faktor lainnya
Higher wealth leads to higher consupmtion (wealth effect).
TABUNGAN
Bagian dari pendapatan yang tidak dikonsumsi
Tabungan nasional adalah komposisi dari private saving (personal dan business) dan tabungan pemerintah (government/ public saving)
Jika tabungan nasional tinggi, maka capital stock akan tumbuh dengan cepat, sehingga ouput potensial akan tumbuh dengan cepat pula.
KONSUMSI, TABUNGAN DAN PENDAPATAN
Recall:
Pendapatan perseorangan (Personal Income = PI)
dikurangi : pajak-pajak pribadi (personal taxes)
sama dengan : pendapatan yang siap dibelanjakan (disposable income = Yd)
Dikurangi : konsumsi personal (personal consumption = C)
sama dengan : tabungan personal (personal saving = S)
Secara matematis: Yd = C + S
dimana Yd adalah disposable income, yaitu pendapatan yang siap dibelanjakan setelah dikurangi pajak (Y – T). Dalam perekonomian dimana tidak ada campur tangan pemerintah, maka Yd = Y, sehingga:
Y = C + S
S = Y – C
Contoh :
Pendapatan
(Y) Konsumsi
(C) Tabungan
(S) = (Y) - (C)
24000 24110 – 110
25000 25000 0
26000 25850 150
27000 26600 400
28000 27240 760
29000 27830 1170
30000 28360 1640
Fungsi Konsumsi
Suatu fungsi konsumsi menggambarkan hubungan antara konsumsi dan pendapatan
Kemiringan fungsi/ kurva konsumsi disebut hasrat mengkonsumsi marginal (Marginal Propensity to Consume = MPC), mengukur besarnya tambahan pendapatan yang digunakan untuk menambah konsumsi.
MPC = C/Y
MPC selalu positip, tetapi nilainya kurang dari satu (0 < MPC < 1)
Fungsi konsumsi linear mempunyai kemiringan sama (MPC konstan), sedangkan fungsi konsumsi nonlinear mempunyai kemiringan yang berubah (MPC tidak konstan/ berubah)
Intersep fungsi konsumsi disebut konsumsi otonom (autonomous consumption), mengukur:
besarnya pengeluaran konsumsi pada saat pendapatan nol.
pengeluaran konsumsi yang tidak dipengaruhi oleh pendapatan
Hasrat mengkonsumsi rata-rata (Average Propensity to Consume = APC) merupakan rasio antara pengeluaran konsumsi terhadap pendapatan atau disebut juga sebagai tingkat konsumsi
APC = C/Y
APC selalu positip
Fungsi Tabungan
Kemiringan fungsi/ kurva tabungan disebut hasrat menabungan marginal (Marginal Propensity to Save = MPS), mengukur besarnya tambahan pendapatan yang digunakan untuk menambah tabungan.
MPS = S/Y
MPS selalu positip, tetapi nilainya kurang dari satu (0 < MPS < 1)
Fungsi tabungan linear mempunyai kemiringan sama (MPS konstan), sedangkan fungsi tabungan nonlinear mempunyai kemiringan yang berubah (MPS tidak konstan/ berubah)
Hasrat menabungan rata-rata (Average Propensity to Save = APS) merupakan rasio antara pengeluaran tabungan terhadap pendapatan atau disebut juga sebagai tingkat tabungan.
APS = S/Y
Jika C > Y = S negatip (dissaving)
= APS negatip
C < Y = S Positip (saving)
= APS positip
Hubungan MPC dengan MPS
Y = C + S
Y + Y = (C + C) + (S + S)
Y = (C + S) – Y + (C + S)
Y = C + S
Y/Y = C/Y + S/Y
1 = MPC + MPS
Contoh :
Pendapatan
(Y) Konsumsi
(C) Tabungan
(S)=(Y) - (C) MPC
=DC/DY MPS
=DS/DY APC
=C/Y APS
=S/Y
24000 24110 -110 - - 1.0046 -0.0046
25000 25000 0 0.89 0.11 1 0
26000 25850 150 0.85 0.15 0.9942 0.0058
27000 26600 400 0.75 0.25 0.9852 0.0148
28000 27240 760 0.64 0.36 0.9729 0.0271
29000 27830 1170 0.59 0.41 0.9597 0.0403
30000 28360 1640 0.53 0.47 0.9453 0.0547
Fungsi Konsumsi dan Tabungan Linear
Fungsi Konsumsi: C = C0 + bY
dimana: C0 adalah autonomous cosumption, b adalah MPC
Recall:
Y = C + S
S = Y – C
Fungsi Tabungan
S = Y – (C0 + bY)
S = – C0 + (Y – bY)
S = – C0 + (1 – b)Y
dimana: (1-b) adalah MPS
Break Even Point
Kondisi break even terjadi jika pendapatan hanya cukup untuk menutup pengeluaran konsumsi (Y=C, atau S= 0)
Pada gambar di atas, BEP terjadi pada saat
pendapatan sebesar 200.000
Secara matematis:
Y = C
Y = C0 + bY
Y – bY = C0
Y(1 – b) = C0
Y = C0/(1 – b) = C0/MPS
Contoh :
Diketahui Fungsi Kosumsi: C = 50.000 + 0,75Y
Pada tingkat pendapatan berapa BEP terjadi?
Jawab:
BEP Y = C
Y = 50.000 + 0,75Y
Y – 0,75 Y = 50.000
Y (1 – 0,75) = 50.000
Y = 50.000/0,25 = 200.000
Investasi
Pembelian barang modal baru
Penambahan stok barang modal atau aset produktif
Produksi barang modal tahan lama
Peran Investasi Dalam Perekonomian
Jangka Pendek: mempengaruhi output dan kesempatan kerja melalui dampaknya terhadap permintaan agregat.
Jangka Panjang: berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi melalui dampaknya terhadap output potensial dan penawaran agregat.
Ekuilibrium Perekonomian Dua Sektor
Equilibrium:
output = Income
= spending
Secara matematis:
Y = C + I
Y = CO + bY + I
Y = 1/(1-b) (CO + I)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar